“Apa kamu memperdayaiku ?Kamu pikir aku tak tahu ? hanya karena mulut ini diam, bukan berarti hati tak berbicara..”
Itu adalah lontaran dari temanku yang seolah-olah menirukan isi hati si Dia.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya? Sehingga dia bisa berkata seperti itu. Apa aku pernah melakukan kesalahan ? sepertinya tidak. Jika aku pikir-pikir lagi rasanya tidak ada hal janggal.
Jika aku punya salah, atau dia marah. Tentu dia akan marah, lha wong dia tidak marah. Berarti aku tidak punya salah apa-apa. Ditambah lagi, dia terlihat baik di depanku ? berarti itu memperjelas bahwa dia dan aku tidak punya masalah. Iya kan ?
Kuakui dia memang salah satu dari temanku yang baik. Namun,
masih ada banyak teman yang baik selain dia yang terkadang mau aku ajak pergi keluar untuk makan, atau nongkrong.
Dia juga sangat rajin. Dia pandai dalam bidang Fisika. Hampir tiap PR fisika dia selalu bisa mengerjakannya. Terkadang, dia selalu diam dan tak pernah berbicara namun di sisi lain dia terkadang sangat asik di ajak bercanda dan dia juga terkadang ceria. Aku bahkan tak pernah yakin bahwa orang seperti dia itu bagaimana bisa tak memiliki teman satupun di kelas.
Kemarin aku mendekati ‘Dia’ untuk meminta bantuan ‘menemani ke toilet’. Dia mengangguk, namun dalam raut mukanya dia terlihat sedang tidak baik. Lalu aku bertanya, “kenapa kamu ?” seperti biasa dia selalu tersenyum dan bilang tidak apa-apa. Padahal aku tak pernah memaksanya namun dia seperti merasa tidak enak. Mungkin karena aku anak yang selalu menguasai kelas.
Dia selalu bersikap seperti itu. Dan terakhir kali aku mendekati dia untuk meminta bantuan lagi berupa ‘menyalin pekerjaan rumahnya’. Untuk saat itu dia masih tersenyum dan berkata “ini” sambil memberikan bukunya ke tanganku.
Semenjak saat itu dia terlihat menjauhiku. Aku tak tahu mengapa.
***
That’s a simple description about one of our friend. Do we all know ? Terkadang kita sering sekali mengabaikan bagaimana perasaan teman kita. Yang terlihat sangat bahagia ternyata sangat sedih di dalam hatinya[...]Dan, bukan jaminan bagi seorang yang terlihat ceria lalu dia akan selalu tak kenapa-napa. Bahkan, ketika dia sakit hatinya akan jauh lebih menyakitkan dari mereka yang terbiasa sakit hati lalu melontarkan isi hati sesukanya. Dannnnn... cobalah memahami apa yang ada di hati mereka. Walau terkadang memahami orang lain itu lebih sulit dari memahami diri sendiri. Tapi memahami diri sendiri terkadang juga jauhhhhhhhh lebih sulit dari memahami orang lain hehe. Yups!!
At last, “Try to feel inside their heart”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar